Probing-prompting vs Konvensional
Probing-prompting di terjemahkan kedalam bahasa indonesia adalah bisikan penyelidikan. Probing Prompting merupakan cara menyajikan pembelajaran dengan beberapa pertanyaan yang menuntun dan menggali sehingga membentuk suatu proses berpikir yang mengaitkan pengetahuan dan pengalaman sebelumnya dengan pengetahuan baru yang akan dipelajari. Probing-promting mempunyai kelebihan dan kesulitan seperti jenis pembelajaran matematika lainnya.
Kelebihan strategi pembelajaran probing-prompting:
- Strategi pembelajaran probing-prompting dapat membuat seluruh siswa terlibat aktif dalam pembelajaran melalui pertanyaan-pertanyaan yang diajukan guru secara langsung,
- Strategi pembelajaran probing-prompting dapat membuat siswa terbiasa belajar secara mandiri melalui pertanyaan-pertanyaan yang disajikan dalam bentuk Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD), dan
- Strategi pembelajaran probing-prompting dapat melatih kemampuan berpikir siswa, karena siswa dituntut untuk berpikir kritis matematis dalam menjawab pertanyaan dari guru.
- Guru dituntut untuk berpikir kritis matematis dalam memberikan pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya membimbing dan mengarahkan siswa kepada tujuan pembelajaran yang hendak dicapai dan
- Kesulitan bagi guru untuk memastikan seluruh siswa yang jumlahnya banyak sudah memahami materi sesuai dengan tujuan pembelajaran
Dalam penelitian yang dilakukan Kristin, N., Ditasona, C., & Lumbantoruan, J. H. (2021). Kemampuan Berpikir Kritis Matematis Siswa: Studi dengan Model Probing-Prompting dan Konvensional. Brillo Journal, 1(1), 20–28. https://doi.org/10.56773/bj.v1i1.7 Terdapat perbedaan kemampuan berpikir kritis siswa antara model pembelajaran probing-promptingdan konvensional. Lebih lanjut, terdapat peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa yang diajar dengan modelprobing-prompting dan konvensional.Oleh karena itu, model pembelajaran probing-promptingbisa menjadi salah satu alternatif untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis matematis siswa

Komentar
Posting Komentar